Bawa Energi Sendiri: Syarat Baru Danantara untuk Data Center AI di Indonesia

Soedja Editorial Team12 menit baca

Poin utama

  • Danantara, dana investasi negara Indonesia, akan mengumumkan sejumlah investasi data center dan AI di New Asia Forum, Bali, 3–4 Desember 2026. Danantara juga sudah menyebut syaratnya: pengembang harus membawa energi sendiri alih-alih menyedot jaringan listrik PLN, dan memakai pendinginan sistem tertutup (closed loop), dengan pengolahan air atau desalinasi bila perlu.
  • Syarat ini muncul kurang dari empat minggu setelah Pemprov Jawa Barat menghentikan kampus AI BDx berkapasitas 640 MW di dekat Waduk Jatiluhur karena izin belum lengkap dan proyeksi kebutuhan airnya sekitar 384 liter per detik.
  • Kesenjangan listriknya besar. Kapasitas data center yang beroperasi di Indonesia baru sekitar 394 MW, sementara Menteri ESDM kini menyebut data center butuh tambahan sekitar 20 GW, setara 20% kapasitas pembangkit nasional saat ini.
  • Indonesia belum punya aturan nasional soal penggunaan air dan energi data center. Tiga lembaga kini menawarkan tiga solusi berbeda: syarat investasi Danantara, rencana Kemenperin mewajibkan data center berada di kawasan industri, dan usulan Komdigi agar lokasi dikaji lintas sektor sebelum izin terbit.

Syarat baru untuk membangun di Indonesia

Pada 22 Oktober 2026, dalam sesi bersama media di Wisma Danantara, Jakarta, Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director Investment Danantara Investment Management, mengatakan Danantara memiliki "beberapa proyek, termasuk di data center, yang akan diumumkan di acara New Asia Forum" pada Desember. Ia lalu menjelaskan cara Danantara menilainya. Data center skala besar harus mengikuti prinsip yang ia sebut Bring Your Own Energy (BYOE) agar tidak menambah beban sistem kelistrikan nasional. Pendinginannya harus sistem tertutup untuk menekan konsumsi air, dan pengolahan air serta desalinasi sedang dipertimbangkan. Setiap kesepakatan juga akan dinilai dari sisi emisi, kesiapan jaringan listrik, keamanan data, dan dampak lingkungan.

Belum ada satu pun dari syarat ini yang berbentuk regulasi. Namun syarat itu datang dari investor terbesar milik negara, yang berencana menjadi co-investor sekaligus anchor investor dalam kesepakatan yang diumumkannya. Jadi, dalam praktiknya, ini adalah syarat masuk bagi siapa pun yang menginginkan modal Danantara. Waktunya juga sulit dilepaskan dari Jatiluhur. Akhir September lalu, Pemprov Jawa Barat menghentikan pembangunan AI Campus 2 milik BDx hanya beberapa hari setelah groundbreaking, karena proyek itu belum memiliki AMDAL maupun Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan kebutuhan airnya belum jelas. Kasus itu dan gambaran pasarnya kami bahas di ledakan data center AI Indonesia yang terbentur batas air dan listrik.

Pernyataan Danantara pada dasarnya adalah jawaban atas pertanyaan yang dimunculkan Jatiluhur: kalau Indonesia menginginkan kampus AI berkapasitas ratusan megawatt, siapa yang menyediakan listrik dan airnya? Jawaban Danantara: pengembangnya sendiri.

20 GW tambahan listrik yang menurut Menteri ESDM dibutuhkan data center Indonesia, sekitar 20% kapasitas nasional saat ini

~394 MW kapasitas data center yang beroperasi di Indonesia pada semester I 2026 (Mirae Asset)

~1 GW skala program pengembangan data center Danantara sendiri, menurut CTO-nya

Sepuluh minggu yang bisa mengubah syarat main data center AI

Dari penghentian Jatiluhur sampai pengumuman Danantara di bulan Desember. Ketuk satu titik, atau telusuri satu per satu. Titik putus-putus adalah agenda yang dijadwalkan.

Sumber: IESR (1 Okt 2026); Bisnis.com (5, 13, 19, dan 23 Okt 2026); Katadata (8 Okt 2026); Kementerian ESDM (19 Okt 2026); Republika (22 Okt 2026); siaran pers Danantara (14 Okt 2026).

Mengapa "bawa energi sendiri"

Hitungan di balik BYOE terlihat dari angka-angka yang dirilis pejabat bulan ini. Pada 19 Oktober di Bali Tech Week, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, setelah berbincang dengan Direktur Utama PLN, ia memperkirakan data center membutuhkan tambahan listrik sekitar 20 GW, setara kira-kira 20% kapasitas Indonesia saat ini. Ia mencatat bahwa data center era cloud butuh 10–30 MW per fasilitas, sedangkan fasilitas AI bisa butuh 100 MW hingga 1 GW.

Sebagai pembanding, seluruh rencana penyediaan listrik PLN 2025–2034 (RUPTL) menambah kapasitas baru 69,5 GW, termasuk 42,6 GW energi terbarukan. Jika data center benar-benar butuh 20 GW, sektor ini akan menyerap hampir 30% dari tambahan kapasitas yang direncanakan selama satu dekade. Proyeksinya memang sangat beragam, seperti terlihat di grafik berikut, tetapi semuanya berlipat-lipat lebih besar dari kapasitas yang beroperasi saat ini.

Semua proyeksi jauh melampaui kapasitas yang beroperasi hari ini

Kapasitas listrik data center, yang beroperasi dan yang diproyeksikan, dalam megawatt. Ganti skala untuk membandingkan angka yang kecil.

Sumber: Mirae Asset Sekuritas, Data Centers and AI, 17 Sep 2026 (kapasitas beroperasi, semester I 2026); IDPRO via Katadata dan KabarBursa (proyeksi kapasitas terpasang akhir 2026 dan 2030); estimasi Komdigi yang dikutip IESR (kebutuhan 2029); Kementerian ESDM, 19 Okt 2026 (kebutuhan tambahan, tanpa tahun target); estimasi PLN yang dikutip IESR (2035). Definisi tiap estimasi berbeda sehingga tidak sepenuhnya sebanding.

Alasan lainnya adalah waktu. Mirae Asset memperkirakan penyambungan 100 MW ke jaringan di Indonesia memakan waktu sekitar 36 bulan, dibandingkan sekitar 12 bulan di Malaysia, dan sebagian pengembang menyebut pembangunan gardu induk saja bisa makan waktu dua sampai tiga tahun. Pengembang yang membangun pembangkit sendiri, entah PLTS dengan baterai, pembangkit gas, atau kontrak pasokan energi terbarukan khusus, secara prinsip bisa bergerak lebih cepat dari jaringan. Kontrak pasokan 450 MW antara PLN Batam dan DayOne, yang disebut Bahlil sebagai kontrak listrik data center terbesar di Indonesia, menunjukkan jalur lainnya: kesepakatan khusus berskala sangat besar yang dinegosiasikan per kampus.

Indonesia bukan negara pertama yang mewajibkan data center menanggung pasokan listriknya sendiri. Pada Desember 2025, regulator energi Irlandia memfinalkan aturan yang mewajibkan data center baru di atas 10 MVA menyediakan pembangkit atau penyimpanan energi yang bisa dikendalikan (dispatchable) di lokasi atau di dekatnya, serta memenuhi 80% kebutuhan listrik tahunannya dengan listrik terbarukan baru yang dibangkitkan di Irlandia dalam enam tahun. Irlandia sampai di titik itu setelah data center menyerap lebih dari seperlima listrik terukur negara itu, menurut Central Statistics Office. Indonesia mencoba menetapkan syarat itu sebelum hal serupa terjadi.

BYOE tidak menjawab jenis energi apa yang harus dibawa. Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, menulis di Fortune pada April bahwa ketergantungan Indonesia pada batu bara bisa membatasi kemampuannya menarik investasi AI, karena banyak pembeli teknologi besar terikat komitmen energi bersih. Aturan yang mewajibkan data center membawa listrik sendiri tanpa menyebut sumbernya bisa saja menghasilkan PLTU atau PLTG captive, bukan PLTS. Karena itu lembaga kajian energi IESR meminta syarat tambahan berupa pasokan energi terbarukan langsung minimal 35% pada 2030 dan 50% pada 2040.

Klausul air

Paruh kedua syarat Danantara menyangkut air, dan di sini pilihan teknologi pendinginan lebih menentukan dibandingkan ukuran kampus. Konsultan data center Devy Endry memberi kumparan simulasi tiga sistem umum untuk beban 1 MW. Cooling tower konvensional butuh sekitar 3,4 meter kubik air tambahan (make-up) per jam untuk mengganti air yang menguap, atau sekitar 82.000 liter per hari. Adiabatic dry cooler, yang hanya menyemprotkan air ketika udara panas, butuh sekitar 0,8 meter kubik per jam, atau sekitar 19.000 liter per hari. Dry cooler, sistem yang sepenuhnya tertutup, sama sekali tidak butuh air tambahan. Konsekuensinya ada di listrik: sistem tertutup bergantung pada kipas dan chiller yang lebih boros daya, terutama di iklim tropis yang lembap.

Kampus yang sama, tiga pilihan pendinginan

Pilih ukuran kampus dan sistem pendinginan untuk melihat kebutuhan air tambahan harian saat beroperasi penuh.

Ukuran kampus

Sistem pendinginan

juta liter per hari
liter per detik
kebutuhan air harian orang, 100 liter per orang

Sumber: kebutuhan air tambahan per MW dari simulasi konsultan data center Devy Endry, dimuat kumparan, 7 Okt 2026 (cooling tower 3,4 m³/jam, adiabatic dry cooler 0,8 m³/jam, dry cooler 0 m³/jam, beroperasi penuh terus-menerus). Model ini menghasilkan angka lebih tinggi untuk 640 MW dibanding 384 L/detik yang disebut untuk desain BDx sendiri. Asumsi 100 liter per orang per hari sesuai rasio yang dipakai untuk Nongsa Digital Park di Batam, di mana 29 juta liter per hari disetarakan dengan kebutuhan sekitar 290.000 orang (Katadata). Dry cooler tidak butuh air tambahan tetapi lebih boros listrik.

Untuk kampus 640 MW, selisih antara opsi pertama dan terakhir setara selisih antara pasokan air sebuah kota kecil dan hampir nol. Itulah sebabnya pendinginan sistem tertutup kini menjadi tuntutan bersama Danantara, IESR, dan pemerintah negara bagian Johor, yang pada Maret 2026 menyatakan tidak lagi menyetujui data center dengan kebutuhan air tinggi. Desalinasi, opsi lain yang disebut Danantara, paling masuk akal di wilayah pesisir dan kepulauan. Bahlil mempromosikan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai hub baru, salah satunya karena menurutnya wilayah itu punya air dan penduduknya lebih sedikit dari Jawa. Warga Batam mungkin tidak sepakat. Pada 5 Oktober, ratusan warga, sebagian besar perempuan, berunjuk rasa di Nongsa Digital Park karena pasokan air yang terganggu berbulan-bulan, yang mereka kaitkan dengan pembangunan data center. BP Batam menyebut kekeringan itu terutama akibat El Niño.

Jawaban Danantara atas Jatiluhur sederhana: kalau data center butuh pembangkit listrik dan sumber air, pengembangnya yang harus membawa keduanya.

Tiga kementerian, tiga jawaban

Danantara bukan satu-satunya lembaga yang mencoba menulis aturan main setelah Jatiluhur. Dalam empat minggu sejak penghentian proyek itu, setidaknya empat bagian pemerintahan dan satu lembaga kajian besar menawarkan solusinya masing-masing, dan arahnya tidak selalu sama.

SiapaUsulanStatus
DanantaraBawa energi sendiri; pendinginan sistem tertutup; pengolahan air atau desalinasi; penilaian emisi, kesiapan jaringan, keamanan data, dan lingkunganKriteria investasi untuk kesepakatannya sendiri; pengumuman pertama dijadwalkan 3–4 Desember
KemenperinData center wajib berada di kawasan industriUsulan perubahan Permenperin, 13 Oktober
KomdigiKajian lokasi lintas sektor sebelum izin terbit, menimbang kebutuhan komputasi dengan ketersediaan air dan energi setempatPernyataan menteri, 7 Oktober
Kementerian ESDMInvestor menyerahkan rencana lokasi agar PLN bisa menyiapkan pasokan; aturan wajib bermitra dengan pengusaha lokalDiumumkan 19 Oktober, aturan sedang disiapkan
IESRWajib pendinginan tanpa air atau sistem tertutup; PUE di bawah 1,3; energi terbarukan langsung 35% pada 2030 dan 50% pada 2040Rekomendasi, 1 Oktober

Yang belum ada adalah satu buku aturan. Seperti dicatat Katadata dalam analisisnya pada 8 Oktober, Indonesia belum memiliki regulasi yang khusus mengatur investasi data center. Perizinan saat ini berjalan lewat aturan umum, PP 28/2025 dan Permenkomdigi 15/2025, dengan pengelolaan air diatur PP 30/2024 dan persetujuan lingkungan oleh PP 22/2021. Berbeda dengan Malaysia, Indonesia tidak punya perizinan satu pintu untuk data center. Akibatnya, nasib Jatiluhur diputuskan oleh seorang gubernur lewat sidak.

Negara tetangga sudah melangkah lebih jauh. Singapura menghentikan pembangunan data center baru pada 2019–2022 dan kini mengalokasikan kapasitas lewat beberapa putaran, dengan batas power usage effectiveness (PUE) 1,3. Pedoman keberlanjutan Malaysia melarang fasilitas baru di wilayah dengan indeks tekanan air (water stress index) 0,8 atau lebih, dan Johor menambahkan kajian air dan energi di tingkat negara bagian. Belanda tidak lagi mengizinkan data center baru yang lebih luas dari 10 hektare atau di atas 70 MW, dan Amsterdam menghentikannya sampai 2030.

Dari penyewa lahan ke ekosistem

Syarat-syarat ini juga menunjukkan bagaimana Danantara ingin meraup untung dari data center. Dalam konferensi pers 19 Oktober, Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa berkata lugas: "Kalau kita hanya menyewakan lahan, impaknya tidak besar." Menurut hitungannya, data center kelas 100 MW dengan model sewa lahan menghasilkan pendapatan sekitar US$100–150 juta dari investasi US$3–4 miliar. Jika perusahaan Indonesia juga memasok chip, sistem kendali AI, dan teknologi lainnya, pendapatan bisa mencapai US$1,5 miliar atau lebih. Danantara sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan perancang chip asal Inggris, Arm, yang mencakup enam sektor industri, salah satunya data center.

Sigit juga menegaskan permintaan bukan masalah. Pada Agustus ia mengatakan kepada ANTARA bahwa setiap kali dibangun 100 atau 200 megawatt, kapasitas itu langsung habis terjual, dan pelanggan harus menunggu enam bulan hingga setahun. Dalam lokakarya Danantara pada September, anak usaha data center Telkom, NeutraDC, menyatakan rencana kapasitas data center AI hingga 1 GW di Batam, Jabodetabek, Jawa, dan Manado, sementara survei terhadap lebih dari 70 BUMN memproyeksikan AI bisa menyerap sekitar 70% penggunaan data center pada 2030.

Jika digabungkan, posisi ini lebih ambisius daripada sekadar merayu hyperscaler dengan lahan dan listrik murah. Danantara menginginkan data center yang menanggung energinya sendiri, hemat air, melibatkan perusahaan lokal, dan meninggalkan transfer teknologi. Apakah pengembang AI global mau menerima semua syarat itu sekaligus, sementara Malaysia dan Thailand bersaing memperebutkan proyek yang sama, masih menjadi pertanyaan terbuka.

Yang perlu dicermati berikutnya

  • 26–28 Oktober, Jakarta. Danantara Technology Innovation and Investment Forum, dengan AI dan infrastruktur digital sebagai salah satu dari enam sektor fokus. Pengumuman kemitraan dimungkinkan.
  • 3–4 Desember, Bali. New Asia Forum. Ujian pertama BYOE adalah apakah kesepakatan data center yang diumumkan di sana menyebut sumber energi dan desain pendinginannya.
  • Aturan kawasan industri. Jika revisi Permenperin disahkan, kampus-kampus berikutnya akan bergeser dari dekat waduk seperti Jatiluhur ke kawasan industri dengan pasokan listrik dan air yang terencana.
  • AMDAL Jatiluhur. BDx menyatakan akan mematuhi semua masukan. Hasil akhir kajiannya, dan perubahan desain pendinginan bila ada, akan menunjukkan apa yang dianggap layak oleh pemerintah provinsi.
  • Standar nasional. Asosiasi data center IDPRO lebih memilih standar kinerja dan berencana meluncurkan Indonesia Sustainable Data Center Index. IESR menginginkan batas yang mengikat. Keduanya belum ada.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu prinsip "Bring Your Own Energy" Danantara?

Ini adalah syarat yang menurut Danantara diterapkan pada investasi data center: proyek besar, terutama data center AI, harus mengamankan pasokan listriknya sendiri alih-alih menyedot jaringan publik PLN, agar tidak mengganggu pasokan listrik bagi pengguna lain. Danantara menyampaikannya pada 22 Oktober 2026. Ini kriteria investasi, bukan regulasi pemerintah.

Kapan Danantara mengumumkan investasi data center-nya?

Danantara menyatakan akan mengumumkan sejumlah investasi data center dan AI di New Asia Forum, Bali, 3–4 Desember 2026. Danantara juga menggelar forum investasi teknologi di Jakarta pada 26–28 Oktober 2026.

Mengapa data center di Jatiluhur dihentikan?

Pemprov Jawa Barat menghentikan AI Campus 2 milik BDx berkapasitas 640 MW pada akhir September 2026 karena belum memiliki AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Proyeksi kebutuhan airnya, sekitar 384 liter per detik dari Waduk Jatiluhur, juga menjadi sorotan utama.

Berapa kebutuhan listrik data center Indonesia?

Estimasinya sangat beragam. Kapasitas yang beroperasi pada semester I 2026 sekitar 394 MW. Komdigi memperkirakan lebih dari 2 GW pada 2029, IDPRO memproyeksikan kapasitas sekitar 11 GW pada 2030, Menteri ESDM pada Oktober 2026 menyebut butuh tambahan sekitar 20 GW, dan PLN memperkirakan permintaan bisa mencapai 25 GW pada 2035.

Apakah pendinginan sistem tertutup sama sekali tidak memakai air?

Dry cooler yang sepenuhnya tertutup tidak butuh air tambahan setelah diisi, karena airnya bersirkulasi tanpa menguap. Gantinya, sistem ini lebih boros listrik. Cooling tower kehilangan air lewat penguapan, sekitar 82.000 liter per hari per MW menurut salah satu simulasi industri, sementara adiabatic cooler berada di antaranya.

Apakah Indonesia punya aturan soal penggunaan air dan energi data center?

Belum. Data center diizinkan lewat regulasi umum, dan belum ada standar nasional soal penggunaan air, power usage effectiveness, atau pasokan energi terbarukan. Kemenperin mengusulkan agar data center wajib berada di kawasan industri, dan Komdigi meminta kajian lokasi lintas sektor.

Di mana pemerintah ingin data center baru dibangun?

Menteri ESDM mendorong Batam, Karimun, dan Bintan sebagai hub baru, dengan alasan ketersediaan air, kepadatan penduduk yang lebih rendah, dan potensi energi terbarukan. Batam sendiri sudah memiliki sekitar 1,47 GW kapasitas yang tersedia, sudah dikomitmenkan, atau sedang dikembangkan.

Sumber

Soedja Editorial Team

Editorial Team

Bagikan:

Butuh bantuan soal ini?

Kasih tahu kami apa yang kamu butuhkan, nanti kami hubungi balik.

Investasi Data Center Danantara 2026, Prinsip Bawa Energi Sendiri dan Aturan Air | Soedja